MANADO, BeritaOnlineLokal.com — Komitmen Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) dalam menjaga akar tradisi leluhur berbuah manis di level nasional.
Bupati Minsel, Franky Donny Wongkar, S.H. (FDW), sukses memboyong penghargaan bergengsi Apresiasi Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Momen bersejarah ini terjadi dalam rangkaian Acara Peluncuran (Launching) Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara yang digelar megah di Kota Manado, Jumat (22/5/2026).
Penghargaan tertinggi di bidang kebudayaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Kebudayaan RI, Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc.
Prosesi penyerahan ini disaksikan langsung oleh Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), Mayjen TNI (Purn.) Yulius Selvanus, S.E., jajaran Forkopimda, para Kepala Daerah se-Provinsi Sulut, serta tokoh seniman dan budayawan daerah.
Keberhasilan ini memicu apresiasi luas.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Minahasa Selatan Tusrianto Rumengan menegaskan bahwa pencapaian ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari visi misi daerah yang konsisten.
“Penghargaan Apresiasi WBTb ini adalah bentuk pengakuan nyata dari pemerintah pusat atas dedikasi Bapak Bupati Franky Donny Wongkar dan seluruh masyarakat Minsel dalam melestarikan nilai-nilai tradisi,” ungkap Tusrianto Rumengan, saat dikonfirmasi.
Pihak Diskominfo juga menambahkan bahwa momentum ini akan menjadi bahan bakar baru bagi pelestarian budaya ke depan.
“Ke depan, ini menjadi motivasi besar bagi kita semua untuk terus menjaga, merawat, dan memperkenalkan kekayaan budaya Minahasa Selatan kepada dunia,” tambahnya.
Suasana malam penganugerahan berlangsung khidmat sekaligus semarak.
Halaman museum diguncang oleh penampilan drama teater yang memukau serta pagelaran tarian khas dari berbagai wilayah di Sulawesi Utara, mempertegas identitas budaya Bumi Nyiur Melambai.
Dengan diraihnya penghargaan WBTb ini, Minahasa Selatan di bawah kepemimpinan FDW berhasil membuktikan kualitasnya.
“Minsel kini memantapkan posisi sebagai daerah yang kokoh secara pembangunan ekonomi dan infrastruktur, namun tetap menjadikan perlindungan aset budaya takbenda sebagai fondasi utama identitas daerah,” pungkasnya.
(TamuraWatung)










