“Musik itu adalah kehidupan. Ia akan selalu menjadi teman sepanjang waktu,” (Stefan Tamalawe)
Dalam dunia yang terus berubah dan serba cepat, hanya sedikit orang yang mampu mempertahankan idealisme, konsistensi, dan cinta sejati terhadap seni. Salah satunya adalah Stefan Tamalawe, pria kelahiran Tahuna, 12 September 1986, yang menjadikan alat musik terutama gitar sebagai jalan hidupnya.
Lulusan Universitas Negeri Manado, Fakultas Bahasa dan Seni ini telah menapaki jejak panjang dalam dunia musik sejak usia dini. Ketertarikannya bermula sejak duduk di bangku kelas 4 SD, saat melihat sang ayah memainkan gitar. Momen sederhana itu justru menjadi fondasi kuat yang mengarahkan hidup Stefan. Di usia 13 tahun, ketika masih duduk di bangku SMP, ia memutuskan untuk serius menggeluti alat musik gitar, keputusan yang hingga kini terus dijalani dengan totalitas.
Menemukan Jati Diri Lewat Senar dan Nada
Perjalanan musikal Stefan nama panggung musisi tulen ini dimulai dari genre slow rock, namun semangatnya untuk terus berkembang membuatnya rajin mendengarkan instrumen musik, khususnya instrumen gitar. Ia banyak menyerap gaya dan warna musik dari dua tokoh besar dunia: Jimi Hendrix, legenda gitar listrik dalam sejarah musik rock, dan Pat Metheny, maestro gitar jazz asal Amerika.
“Proses saya berkarya biasanya dimulai dari mendengarkan instrumen. Tanpa disadari, notasi muncul sendiri, mengalir begitu saja, dan jadilah sebuah lagu atau karya instrumen,” tutur Stefan.
Momen Paling Menguji: Kontrak Musik di Padang
Salah satu pengalaman paling berkesan dalam kariernya adalah saat mendapatkan kontrak bermain musik di Padang, Sumatera Barat. Ia dan tim ditantang untuk membawakan hingga 30 lagu dalam satu malam merupakan sebuah tekanan besar, baik secara teknis maupun mental.
“Saya harus tetap profesional, semua masalah pribadi harus ditinggalkan di balik panggung. Fokus sepenuhnya pada musik,” kenangnya. Pengalaman ini mengasah kedewasaan dan profesionalismenya dalam menghadapi kerasnya dunia pertunjukan.
Filosofi: Musik Adalah Kehidupan
Bagi Stefan, musik bukan sekadar profesi, tetapi bagian dari kehidupan itu sendiri. Musik adalah sahabat setia yang selalu hadir, bahkan saat dunia terasa sunyi.
“Musik itu adalah kehidupan. Ia akan selalu menjadi teman sepanjang waktu,” ujarnya dengan penuh makna.
Ia percaya bahwa untuk bertahan di tengah kompetisi industri musik saat ini, seorang musisi harus berani mencoba hal baru, keluar dari zona nyaman, dan terus berpikir positif. Tak lupa, doa dan belajar dari pengalaman menjadi pegangan dalam menghadapi berbagai tantangan.
Pendidikan dan Harapan Masa Depan
Jika tidak menjadi seorang gitaris, Stefan menyatakan keinginannya menjadi guru seni atau musik. Tak heran, karena ia memiliki semangat untuk membagikan ilmu dan menginspirasi generasi muda. Kepada sesama gitaris, ia berpesan: “Berpikirlah positif, tekun dalam belajar, dan siap beradaptasi dengan teknologi serta tren musik yang terus berkembang.”
Kini, Stefan tengah mengerjakan proyek lagu baru yang ia harapkan dapat diterima masyarakat luas. Impiannya bukan hanya untuk terus berkarya, tetapi juga menjadi sumber inspirasi, motivasi, dan hiburan bagi banyak orang.
Sebuah Inspirasi dari Daerah Perbatasan
Kisah Stefan adalah potret tentang ketekunan, konsistensi, dan cinta yang tulus terhadap seni. Dalam dunia yang sering menuntut hasil instan, ia menunjukkan bahwa proses, dedikasi, dan nilai-nilai spiritual masih menjadi pilar utama dalam membangun karya yang bermakna.
Sebagaimana senar gitar yang ditekan dan dipetik, hidup pun menekan dan menguji. Namun dari tekanan itulah, melodi tercipta. Dan dari ketekunan seorang Stefan, kita belajar bahwa hidup pun bisa seindah musik jika kita tahu cara memainkannya.










