gambar

Gempa Vulkanik Gunung Awu Sangihe Meningkat, Warga Dilarang Beraktivitas di Radius 3 Kilometer dari Kawah Puncak Gunung

BERITA ONLINE LOKAL, SANGIHE – Aktivitas gempa vulkanik Gunung Api Awu di Kabupaten Kepulauan Sangihe mengalami peningkatan. Hal ini diungkapkan salah satu pengamat Gunung Api Awu, Subandrio K Puyo. Menurut dia naiknya aktivitas kegempaan ini, diduga akibat adanya pergerakan magma ke kedalaman yang lebih dangkal. Hal ini ditandai dengan peningkatan jumlah Gempa Vulkanik-Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik-Dalam (VA) yang relatif tinggi.

“Ada terjadi peningkatan jumlah gempa, tercatat selama 14 hari sejak tanggal 12 Juli 2023 hingga 25 Juli 2023 terekam gempa VB sebanyak 129 kali kejadian dan Gempa VA sebanyak 95 kali kejadian. Energi gempa pun mengalami peningkatan yang terdeteksi dari grafik RSAM yang meningkat. Namun demikian, hingga saat ini tidak terdeteksi adanya gempa Low-Frequency maupun Getaran Tremor yang dapat menjadi gejala awal kejadian erupsi,” ungkap Puyo, ketika dikonfirmasi di Pos Pengamatan Gunung api Awu, Kamis (27/7/2023).

Selain itu, dikatakan Puyo, dari pengamatan secara visual menunjukkan adanya aktivitas di permukaan masih berupa hembusan gas, namun tidak ada material batuan ataupun abu yang terbawa ke permukaan.

“Selama kurun waktu 12-25 Juli 2023 (14 hari) gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Melalui pengamatan CCTV yang dipasang di daerah puncak, teramati hembusan gas dari dasar kawah/kubah lava berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 10-100 meter dari puncak,” ungkapnya lagi.

Dengan adanya aktivitas tersebut dapat berpotensi bahaya yang mungkin terjadi, berupa erupsi magmatik eksplosif menghasilkan lontaran material pijar atau aliran piroklastik, magmatik efusif menghasilkan aliran lava, maupun erupsi freatik yang didominasi uap, gas gunung api maupun material erupsi sebelumnya.

“Potensi pembongkaran kubah lava dapat terjadi jika tekanan di dalam sistem magmatik mengalami peningkatan signifikan. Potensi bahaya lain berupa emisi gas gunung api seperti CO, CO2, H2S, N2 dan CH4. Gas-gas tersebut dapat membahayakan jiwa jika konsentrasi yang terhirup melebihi nilai ambang batas aman,” jelas Puyo. Sedangkan potensi bahaya sekunder jika erupsi telah terjadi, berupa aliran lahar yang berasal dari material piroklastik yang jatuh di bagian lereng dan terbawa air hujan mengikuti alur sungai yang berhulu dari gunung api,” tambah dia.

Meski begitu, berdasarkan pemantauan visual dan instrumental hingga tanggal 26 Juli 2023, Badan Geologi menyatakan Tingkat Aktivitas Gunung Api Awu masih berada pada Level II atau Waspada.

“Dalam tingkat aktivitas Level II Waspada, masyarakat dan pengunjung atau wisatawan agar tidak mendekati dan beraktivitas di dalam radius 3 kilometer dari kawah puncak Gunung Awu terkait potensi bahaya gas vulkanik konsentrasi tinggi serta lontaran batuan jika terjadi erupsi freatik yang tiba tiba, tanpa didahului oleh gejala kenaikan aktivitas yang jelas. Radius dan jarak rekomendasi ini ini akan dievaluasi terus untuk antisipasi jika terjadi gejala perubahan ancaman bahaya. Tingkat aktivitas Gunung Awu akan ditinjau kembali jika terdapat perubahan visual dan kegempaan yang signifikan,” tutup dia.