Semarak kemerdekaan sudah mulai terasa di berbagai penjuru negeri, ditandai dengan beragam kegiatan seperti upacara bendera, lomba rakyat, hingga dekorasi lingkungan bernuansa merah putih.
Di Desa Buku Tenggara Kecamatan Belang Kabupaten Minahasa Tenggara, pemerintah desa ikut menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh rakyat Indonesia.
“Selamat Hari Kemerdekaan RI ke-80, semoga Indonesia makin maju, makin kuat, dan makin sejahtera rakyatnya,” ujar Hukum Tua Desa Buku Tenggara Sugijarni Daeng.
Daeng menegaskan bahwa gotong royong adalah karakter bangsa yang harus dijaga dan diwariskan.
Ia menyebut pandemi beberapa tahun lalu menjadi ujian bagi persatuan bangsa, namun justru memperkuat tekad untuk bangkit bersama.
“Sekali merdeka, tetap merdeka! Selalu ada rindu dan kasih untuk NKRI,” ungkapnya.
Perjalanan menuju proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 berawal dari kabar menyerahnya Jepang tanpa syarat kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945, setelah pengeboman Hiroshima dan Nagasaki.
Kabar itu didengar para pemuda Indonesia melalui siaran Radio BBC.
Mendapat berita tersebut, para pejuang muda mendesak Soekarno dan Mohammad Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan tanpa menunggu keputusan resmi Jepang.
Namun, golongan tua mengusulkan menunggu hingga 24 Agustus 1945.
Perbedaan pandangan ini memicu peristiwa Rengasdengklok, ketika Soekarno dan Hatta “diamankan” para pemuda demi mempercepat proklamasi.
Setelah kembali ke Jakarta pada malam hari, Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo bertemu di rumah Laksamana Maeda untuk merumuskan teks proklamasi.
Dini hari 17 Agustus 1945, naskah rampung dan diketik oleh Sayuti Melik.
Pagi harinya, tepat pukul 10.00 WIB, Soekarno membacakan teks proklamasi di kediamannya di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta.
Kabar kemerdekaan pun tersebar ke seluruh penjuru negeri, disambut sukacita rakyat yang telah lama menanti akhir penjajahan.
Proklamasi kemerdekaan bukan hanya penanda lahirnya sebuah negara, tetapi juga simbol keberanian dan persatuan bangsa Indonesia untuk berdiri sejajar dengan negara-negara merdeka lainnya.
Kini, setelah delapan dekade, semangat itu tetap menyala.
Masyarakat di seluruh pelosok, termasuk Desa Minanga Timur, memaknainya dengan kegiatan positif yang memperkuat rasa persaudaraan.
Perayaan HUT ke-80 menjadi momen refleksi bahwa kemerdekaan diraih melalui pengorbanan besar, dan mempertahankannya adalah tanggung jawab bersama.










