“Waktu kejadian saya bersama pak wakil Bupati dan pak Sekda berada dijakarta.ketika kami mendapat informasi akan kejadian itu,saya dan pak Sekda langsung pulang ke Minahasa Tenggara dan langsung mengadengakan rapat bersama Tokoh Tokoh Agama,Tokoh Masyarakat Yang ada di dua desa.kegiatan musyawarah dilaksanakan bersama Kapolres Minahasa Tenggara dan Ketua DPRD Kabupaten Minahasa Tenggara,” Ungkap Kandoli.
Lebih lanjut Bupati Ronald Kandoli mengungkapkan setelah kegiatan mediasi di polres Minahasa Tenggara dan Jajaran Pemerintah Kabupaten Minahasa Tenggara langsung turun menemui masyarakat di desa Watuliney Raya dan Molompar Raya.
“Bersyukur dengan dengan kehadiran jajaran pemerintah kabupaten Minahasa Tenggara di tengah tengah masyarakat yang mengalami ketegangan, Kondisinya mulai membaik,” Kata Kandoli.
Bupati juga Sangat berharap kepada Bapak Ibu yang mempunyai Anak Anak Muda untuk terus dan terus memberikan pembinaan dan motivasi untuk melakukan hal hal yang merugikan diri sendiri dan keluarga.
“Berpikir positif untuk tidak melakukan hal hal yang merugikan diri sendiri dan Keluarga,” Ujar Kandoli.
Bupati Ronald Kandoli mengatakan, hari ini menjadi hari yang sangat berdukacita. Karena, kita bisa di pertemukan lagi dalam ibadah bersama di Jemaat GMIM Silo Watuliney.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh Jemaat GMIM Silo Watuliney, yang sampai saat ini telah menjaga keamanan, ketertiban dan kenyamanan, yang ada di Desa Watuliney Raya. Saya memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Jemaah GMIM Silo Watuliney,” ujar Bupati.
Lebih lanjut dikatakan Bupati, tentunya ini harus kita jaga terus. Agar supaya, kedamaian, kenyamanan boleh tercipta terus di Desa Watuliney Raya ini.
“Beberapa hari yang lalu, telah terjadi hal-hal yang cukup mencekam di Desa Watuliney Raya dan Desa Molompar Raya ini. Sehingga kami segenap jajaran Kabupaten Minahasa Tenggara berupaya agar supaya ini tidak akan menjadi besar,” pungkas Bupati.
Dijelaskan Bupati, puji Tuhan. Disaat kami dan Sekda bersama jajaran pulang pada waktu itu langsung mengadakan rapat yang dilaksanakan di Polres Minahasa Tenggara. Hadir pada waktu itu adalah, tokoh-tokoh Agama, tokoh-tokoh Masyarakat.
“Pada saat itu juga, kami telah memutuskan adakan perjanjian damai. Sudah tidak ada lagi yang baku dendam, sudah tidak ada lagi yang marah. Itu yang telah menjadi kesepakatan yang kami ambil, ditanda tangani Bupati Minahasa Tenggara, Kapolres Minahasa Tenggara dan semua unsur yang hadir. Semuanya menanda tangani,” tutur Bupati.
Dalam kejadian tersebut, dikatakan Bupati, ada rumah ibadah yang terkena lemparan batu. Baik rumah ibadah umat Kristen, maupun rumah ibadah umat Muslim.
“Sehingga saya memutuskan, saya sebagai Bupati Minahasa Tenggara. Saya akan benahi semua yang ada, asalkan kita semua baku-bakubae. Itu yang paling penting. Saat itu juga saya telah memutuskan, segera memasang CCTV Baik di gereja maupun di Masjid yang ada di Molompar sudah terpasang dengan baik,” terang Bupati.
Ditambah Bupati, artinya, apapun permintaan masyarakat, apapun keinginan masyarakat pemerintah Kabupaten Minahasa Tenggara berupaya memediasi, berupaya untuk memenuhi keinginan masyarakat dengan catatan. Sudah tidak ada lagi baku lempar, sudah tidak ada lagi yang baku marah.
“Karena yang rugi kita, yang rugi adalah masyarakat Minahasa Tenggara. Lebih khusus lagi, warga masyarakat yang ada di Watuliney Raya dan warga masyarakat Molompar Raya. Karena kita semua Basudara, kenapa harus jadi hal demikian,” tegas Bupati.
Kesempatan tersebut, Bupati Ronald Kandoli dan Wakil Bupati Fredy Tuda beri bantuan pakaian seragam kepada Majelis Kolom di Jemaat GMIM Silo Watuliney, serta uang tunai sebesar 20 juta.










