BERITA ONLINE LOKAL, MINUT – Bupati Minahasa Utara Dr Joune Ganda, SE.MAP.MM.Msi terus menunjukkan komitmenya melakukan upaya strategis dan nyata dalam mempercepat transformasi desa berbasis digital terus didorong Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara.
Terbaru, Dalam sebuah pertemuan virtual bersama jaringan diaspora global, Jumat (24/4/2026), Bupati Joune Ganda menegaskan pentingnya kolaborasi lintas negara untuk memperkuat pembangunan desa yang berkelanjutan.
Diketahui, Kegiatan yang digelar melalui zoom meeting ini merupakan bagian dari pembahasan kerja sama antara Indonesian Diaspora Network Global dengan Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara terkait program digitalisasi desa.
Forum ini juga menjadi ruang bertukar gagasan antara pemerintah daerah, akademisi, serta diaspora Indonesia yang tersebar di berbagai negara.
Di kesempatan ini, Joune Ganda membuka diskusi dengan menyampaikan apresiasi atas keterlibatan diaspora.
Ia secara khusus menyapa sejumlah peserta seperti Hila Kopong, Natalia Wijaya, hingga Jeffrey Liando yang turut hadir dari berbagai belahan dunia.
“Terima kasih kepada seluruh tim diaspora yang sudah meluangkan waktu untuk bertukar pikiran, sharing sekaligus memikirkan bagaimana kita bisa membangun dari desa,” ujar Joune.
Ia menekankan, Minahasa Utara merupakan salah satu daerah yang cukup progresif dalam pengembangan sistem informasi desa dan digitalisasi.
Namun demikian, berbagai tantangan di lapangan masih menjadi kendala utama.
Menurut Joune, keterbatasan infrastruktur seperti jaringan internet yang lemah dan akses listrik yang belum sepenuhnya stabil di beberapa wilayah desa menjadi hambatan nyata dalam implementasi digitalisasi.
“Desa-desa yang sedang kita kembangkan menjadi desa mandiri masih menghadapi persoalan jaringan internet dan listrik yang belum 24 jam. Ini menjadi tantangan yang tidak bisa kita atasi sendiri,” jelasnya.
Selain infrastruktur, ia juga menyoroti persoalan sumber daya manusia di desa yang masih terbatas.
Pergantian sistem atau aplikasi yang terlalu sering, menurutnya, justru dapat membingungkan aparat desa dalam menjalankan program digitalisasi.
Karena itu, Joune menekankan pentingnya pemilihan sistem yang tepat, berkelanjutan, dan memiliki umur ekonomis panjang.
Ia juga mengingatkan agar setiap langkah digitalisasi tetap selaras dengan program pemerintah pusat, seperti integrasi data dalam kebijakan Satu Data Indonesia.
“Kita harus memastikan sistem yang kita pilih tidak sering berganti, sehingga desa bisa beradaptasi dengan baik. Selain itu, harus inline dengan program pemerintah pusat terkait integrasi data,” jelasnya.
Dalam forum tersebut, Joune juga melihat peluang besar dari keterlibatan diaspora dalam membuka akses pasar internasional bagi produk-produk desa. Ia optimistis kolaborasi ini dapat meningkatkan nilai ekonomi masyarakat desa.
“Dengan adanya diaspora dan sistem yang terintegrasi, masyarakat desa bisa lebih mudah mengangkat potensi lokal hingga menembus pasar global,” katanya.
Ia berharap adanya pendampingan dari diaspora dalam hal pengelolaan sumber daya, peningkatan kualitas produk, hingga standarisasi internasional agar hasil desa memiliki daya saing global.
Pertemuan ini turut dihadiri oleh berbagai pihak, antara lain Ginanjjar Ashari dari OpenDesa, Julianti dari ADN Global, Hila Kopong (Diaspora Australia), Natalia Wijaya (Diaspora Jerman), Jeffrey Liando (Diaspora Amerika), serta akademisi dari Universitas Sam Ratulangi.
Hadir pula jajaran Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara seperti Asisten I, Kepala Bappeda, Inspektur, Kominfo, dan Kabag Pemerintahan.
Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai masukan strategis yang diharapkan dapat menjadi landasan dalam merumuskan kebijakan digitalisasi desa yang lebih efektif dan berkelanjutan di Minahasa Utara.(**/Inor)










