BERITA ONLINE LOKAL.COM – TOMOHON – Komitmen pelestarian bahasa daerah dan penguatan literasi budaya kembali mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, mengunjungi Sanggar Kamang Wangko dibawa asuhan Armando Loho, di Kelurahan Woloan, Tomohon Barat, Jumat (26/6/2026).
Kunjungan ini menjadi bagian dari evaluasi program bantuan pemerintah kepada komunitas sastra dan budaya, sekaligus melihat secara langsung dampak yang telah dirasakan para penerima manfaat.
Dalam diskusi itu, Hafidz menegaskan pembangunan pendidikan dan literasi tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah atau kementerian semata.
Menurutnya, kolaborasi berbagai elemen masyarakat menjadi kunci dalam menciptakan generasi yang mencintai bahasa dan budaya bangsa.
“Kami datang untuk melihat apakah program yang dijalankan benar-benar memberikan manfaat, memberikan dampak, dan layak untuk terus dilanjutkan,” ujar Hafidz.
Ia menerangkan, Pendidikan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya kementerian, tetapi juga komunitas sastra, guru, masyarakat, hingga orang tua.
Hafidz mengaku terkesan dengan keterlibatan generasi muda Putra Putri Pendidikan di Tomohon dan Minahasa yang aktif dalam kegiatan literasi dan kebudayaan.
Bahkan, menurutnya, Putra-Putri Pendidikan Tomohon Minahasa memiliki potensi besar untuk menjadi mitra strategis Badan Bahasa, bahkan berpeluang menjadi calon Duta Bahasa di masa mendatang.
Lebih lanjut, Hafidz menyoroti pentingnya peran Sanggar Kamang Wangko dalam menjaga eksistensi bahasa daerah yang saat ini mulai tergerus oleh perkembangan zaman dan minimnya minat generasi muda.
Menurutnya, sanggar budaya dapat menjadi ruang strategis untuk melestarikan cerita rakyat, sastra daerah, dan kearifan lokal melalui pendekatan yang lebih dekat dengan generasi digital.
“Anak-anak sekarang sangat akrab dengan teknologi. Karena itu, konten-konten digital berbasis cerita rakyat, bahasa daerah, seni, dan budaya perlu terus dikembangkan sebagai media edukasi dan promosi budaya lokal. Ini menjadi cara efektif untuk menjaga identitas daerah tetap hidup di tengah perkembangan zaman,” katanya.
Hafidz juga mendorong agar kegiatan sanggar tidak hanya berfokus pada seni pertunjukan dan sastra, tetapi turut memperkuat pembelajaran bahasa daerah dan bahasa Indonesia.
Menurutnya, generasi muda perlu menguasai “Trigatra Bangun Bahasa”. Ini adalah kebijakan kebahasaan yang berpedoman pada tiga pilar utama, yakni utamakan Bahasa Indonesia, lestarikan Bahasa Daerah, dan kuasai Bahasa Asing.
“Di forum formal kita mengutamakan bahasa Indonesia, dalam keluarga dan komunitas kita melestarikan bahasa daerah, dan untuk berkomunikasi di tingkat global kita perlu menguasai bahasa asing. Kemampuan tiga bahasa ini penting untuk ditumbuhkan sejak dini,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Sulawesi Utara, Januar Pribadi, mengapresiasi antusiasme generasi muda Tomohon yang aktif mengikuti berbagai program kebahasaan dan kebudayaan.
Ia menilai semangat anak-anak dalam mengikuti kegiatan seni dan budaya menjadi bukti bahwa warisan leluhur masih mendapat tempat di hati generasi penerus, meskipun mereka hidup di tengah derasnya arus globalisasi.
“Kami sangat senang melihat antusiasme generasi muda. Ini menunjukkan bahwa anak-anak kita masih mencintai budaya lokal dan warisan leluhur. Budaya ini harus terus dijaga agar tidak punah, sekalipun kita berada di era globalisasi yang menghadirkan begitu banyak pengaruh budaya luar,” ujar Januar.
Ia berharap Sanggar Kamang Wangko terus menjadi wadah pembinaan yang mampu memperkuat kecintaan generasi muda terhadap seni, budaya, dan bahasa daerah yang ada di Kota Tomohon.
Kunjungan Kepala Badan Bahasa tersebut berlangsung hangat dan interaktif. Selain berdiskusi dengan pengelola sanggar, rombongan juga disambut oleh Putra-Putri Pendidikan Tomohon Minahasa.
Mereka turut menyampaikan berbagai gagasan terkait pengembangan literasi, pelestarian bahasa daerah, serta penguatan peran generasi muda dalam menjaga identitas budaya lokal.
Melalui kunjungan ini, Sanggar Kamang Wangko diharapkan semakin berkembang sebagai pusat pelestarian bahasa, sastra, dan budaya daerah yang mampu melahirkan generasi muda berkarakter, berbudaya, dan siap menjadi duta kebahasaan Indonesia di masa depan. (*)










