BITUNG, BERITA ONLINE LOKAL – Sistem politik saat ini akan lebih sengit terjadi. Tontonan lompat pagar tersaji dalam kontestasi Pemilihan Walikota (Pilwako) Bitung kali ini. Hal ini diungkapkan pemerhati politik Kota Bitung, Novianto Topit kepada awak media, Jumat (10/5/2024).
Topit mengatakan, politisi yang rela lompat pagar menyalonkan diri hanya karena social and politic benefit yang jauh lebih besar dan menjajikan dari jabatan sebelumnya.
“Sejatinya, budaya politisi lompat pagar ini, membuat kebangunan sistem demokrasi kita menjadi cenderung keropos dan telanjang nilai, karena pijakan niat yang dibangun, bukanlah visi kontinuitas pembangunan. Padahal, berpolitik bukan suatu loncatan ukuran kuantitas politik, akan tetapi merupakan proses pelembagaan nilai dan gagasan untuk memenangkan kehidupan rakyat agar jauh lebih baik,” ucapnya.
Menurutnya, politisi dengan tipe suka lompat pagar, cenderung berorientasi pada ruang dan penggemukan kapasitas politik, demi sebuah nafsu dan tujuan yang politik an sich. Bukan lagi politik nilai, bukan lagi politik pengabdian. Ideal-ideal politik dimaksud, seakan tergerus akibat nafsu berkuasa yang berlebih.
“Memang terlalu jauh rasanya, bila seorang politisi dengan watak suka lompat pagar, disandingkan pada visi politik pengabdian. Bahkan, semangat pengabdian itu terlampau jauh dengan politisi tipe ini. Pengabdian meminta komitmen. Pengabdian tidak mesti terpenjara oleh ruang dan atau political size,” tutur Topit.
Topit pun menilai, setiap petahana dalam pilwako, periode kedua, merupakan momentum aplikatif untuk mengobyektifikasi rencana pembangunan yang telah dicanangkan pada periode pertama. Dengan demikian, ketika momentum untuk mengobyektifikasikan rencana pembangunan ini gagal atau terputus, maka boleh dibilang merupakan bagian kegagalan nyata.
“Dalam pendekatan sosiologi pembangunan, suatu nilai pembangunan akan mudah diterima, apabila nilai-nilai pembangunan yang diusung melekat dan lahir dari konstruksi sosial-politik masyarakat setempat,” jelasnya.
“Tanpa memenjarakan pikiran pada subyektifitas, saya ingin katakan bahwa, idealnya orang yang tepat mempimpin Kota Bitung ini adalah yang lahir dan besar dari konstruksi beragam masalah pembangunan di Kota Bitung. Biarkan rakyat yang menilainya,” tutup Topit.










