BERITA ONLINE LOKAL, SANGIHE – Delapan puluh satu tahun kemerdekaan Indonesia belum sepenuhnya mewujudkan wajah pendidikan yang setara di wilayah perbatasan. Salah satu potret nyata terlihat di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.
Di Kampung Kaluwatu, Kecamatan Manganitu Selatan, SD GMIST Eppata Tetilade masih bertahan dengan jumlah murid yang sangat terbatas dan kekurangan tenaga pengajar. Tahun ajaran ini, sekolah hanya memiliki tujuh murid yang tersebar di tiga tingkat kelas: satu murid di kelas I, empat siswa di kelas III, dan dua siswi di kelas VI. Sementara kelas II, IV, dan V tidak memiliki peserta didik sama sekali.
Kegiatan belajar mengajar kini dijalankan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sekolah Irvan Salamate, S.Pd., yang kembali mengajar setelah sempat berhenti. Ia ditugaskan berdasarkan surat keputusan yayasan, menggantikan guru sebelumnya yang pensiun pada Mei 2026. Selama masa lowong, kegiatan belajar hanya ditangani oleh seorang penatua yang juga menjabat sebagai ketua jemaat setempat.
“Saya dipanggil yayasan untuk kembali menjadi guru honor karena sekolah tidak punya guru setelah guru sebelumnya pensiun. Saat itu hanya ibu ketua jemaat yang mengajar,” ujar Salamate.
Hingga kini, hanya dua tenaga non-ASN yang menopang proses belajar-mengajar di sekolah tersebut, dengan dukungan yayasan dan pelayanan jemaat. Keterbatasan pendidik menjadi persoalan utama yang terus dihadapi. Dalam rapat evaluasi Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) di Tagulandang, kebutuhan tambahan guru termasuk guru ASN yang bisa diangkat menjadi kepala sekolah telah disampaikan.
Persoalan SD GMIST Eppata Tetilade bukan sekadar soal jumlah murid yang tujuh orang. Ini mencerminkan tantangan pendidikan di wilayah kepulauan, ketika minimnya tenaga pendidik berhadapan dengan menurunnya jumlah anak usia sekolah.
Sangihe adalah salah satu daerah terdepan Indonesia yang berbatasan langsung dengan Filipina. Letak geografis itu menjadikan layanan dasar seperti pendidikan memiliki dimensi strategis, bukan hanya akses, tetapi juga keberlangsungan.
Di tengah perayaan 81 tahun kemerdekaan, sekolah ini menghadirkan potret lain tentang makna merdeka. Saat pendidikan nasional bergerak menuju digitalisasi dan inovasi, anak-anak di perbatasan ini masih berjuang untuk tetap bisa belajar di kampung halaman.
Namun, sekolah itu belum menyerah. Dengan tujuh murid dan dua guru, kegiatan belajar-mengajar tetap berjalan. Sekolah tetap menjadi ruang harapan bagi anak-anak Kampung Kaluwatu agar tak perlu meninggalkan kampung demi pendidikan.










