BERITA ONLINE LOKAL.COM, TOMOHON – Semangat gotong royong masyarakat menjadi warna utama pelaksanaan Festival Wanua Woloan 2026 yang digelar di Amphitheater Woloan, Kota Tomohon, Minggu (9/8/2026).
Festival yang digagas Sanggar Kamang Wangko Woloan berkolaborasi dengan Komunitas Siow Pa Siowan Woloan tersebut dirangkaikan dengan peringatan HUT ke-888 Wanua Woloan.
Beragam kegiatan budaya mewarnai festival yang dimulai sekitar pukul 12.00 WITA itu. Di antaranya upacara adat, sidang adat, pentas tari Mahzani, pentas tari Kawasaran, hingga mendongeng.
Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi pertunjukan budaya, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan masyarakat untuk kembali menghidupkan identitas.
Yang menarik, Festival Wanua Woloan 2026 lahir dari partisipasi masyarakat itu sendiri. Penyelenggaraan festival dilakukan dengan semangat dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat.
Dukungan tidak hanya hadir dalam bentuk dana, tetapi juga tenaga, waktu, pemikiran, perlengkapan, keterampilan, hingga talenta seni dan budaya yang dimiliki warga.

Masyarakat ikut mengambil bagian dalam berbagai kebutuhan kegiatan, mulai dari persiapan lokasi, penataan panggung, perlengkapan, pertunjukan seni, dokumentasi, hingga keterlibatan sebagai pelaku budaya.
Hal tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus bergantung pada pembiayaan besar. Dengan kebersamaan dan kepedulian, masyarakat mampu menciptakan sebuah ruang budaya yang hidup.
Ketua Sanggar Kamang Wangko Woloan, Armando Loho, M.Kom, mengatakan Festival Wanua Woloan 2026 merupakan bentuk nyata kecintaan masyarakat terhadap sejarah dan kebudayaan Woloan.
Menurutnya, festival tersebut tidak dibangun hanya oleh satu atau dua pihak, tetapi merupakan hasil kolaborasi banyak orang yang memiliki kepedulian terhadap budaya.
“Festival ini kami bangun bersama. Ada yang memberikan dukungan dalam bentuk dana, ada yang menyumbangkan tenaga, waktu, pemikiran, fasilitas, bahkan talenta seni mereka. Semua menjadi bagian penting dari kegiatan ini,” urai Armando.
Armando juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat, komunitas, pelaku seni, budayawan, pemerintah, serta pihak-pihak yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan Festival Wanua Woloan 2026.
Disisi lain, Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara, Januar Pribadi, S.IP., M.M., yang turut hadir dalam kegiatan tersebut memberikan apresiasi terhadap inisiatif masyarakat Woloan dalam menghidupkan budaya lokal.

Menurutnya, kegiatan seperti Festival Wanua Woloan penting karena memberikan ruang kepada masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal kembali kekayaan bahasa, cerita dan sastra lokal.
“Yang paling penting adalah adanya partisipasi masyarakat. Ketika masyarakat menjadi pelaku utama, maka pelestarian budaya tidak berhenti sebagai program, tetapi menjadi gerakan bersama,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Sulawesi Utara, Anton Hariyanto, S.Kom., M.M.S.I., yang turut hadir, menilai kegiatan tersebut memiliki arti penting dalam upaya menjaga keberlanjutan kebudayaan di Sulawesi Utara.
Anton dapat menekankan bahwa pelestarian kebudayaan tidak cukup hanya dilakukan melalui dokumentasi atau pertunjukan, tetapi harus melibatkan masyarakat sebagai pemilik sekaligus pelaku budaya.
“Kebudayaan tidak akan hidup kalau hanya disimpan atau dipertontonkan. Kebudayaan harus dipraktikkan, diwariskan dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Karena itu, keterlibatan masyarakat dalam Festival Wanua Woloan ini merupakan sesuatu yang sangat positif,” terangnya.

Menurutnya, kegiatan yang melibatkan upacara adat, tari tradisional, sastra, cerita rakyat hingga prosesi napak tilas memiliki nilai penting karena mempertemukan unsur sejarah, tradisi dan generasi masa kini.
Makin menarik, dalam pelaksanaan Festival Wanua Woloan 2026 ini bukan hanya masyarakat lokal yang antusias mengikuti rangkaian kegiatan budaya.
Dari pemantauan media ini, sejumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang hadir juga tampak menikmati bahkan ikut berpartisipasi dalam kemeriahan festival.
Sejak rangkaian kegiatan dimulai sekitar pukul 12.00 WITA, atmosfer budaya begitu terasa.
Wisman yang datang tidak hanya menjadi penonton, tetapi terlihat antusias menyaksikan berbagai prosesi dan pertunjukan yang ditampilkan masyarakat Woloan.
Mulai dari upacara adat, sidang adat, Musik kolintang, Tari Kawasaran, pertunjukan sastra, cerita rakyat, dongeng dan legenda, Mahzani massal hingga prosesi napak tilas, menjadi pengalaman budaya yang menarik perhatian para wisatawan.
Beberapa wisatawan bahkan tampak berbaur dengan masyarakat dan mengabadikan momen melalui kamera maupun telepon genggam mereka.
Ekspresi penasaran dan antusias terlihat ketika mereka menyaksikan secara langsung tradisi masyarakat Woloan yang selama ini mungkin hanya mereka kenal melalui informasi pariwisata maupun media sosial.
Kehadiran wisatawan mancanegara dalam Festival Wanua Woloan 2026 menunjukkan bahwa kekayaan budaya lokal memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Mereka (Wisman-red) terlihat menikmati pertunjukan seni tradisional dan memberikan perhatian khusus terhadap berbagai simbol, busana, gerakan tari serta prosesi adat yang ditampilkan.
Bagi masyarakat Woloan, kehadiran wisman juga menjadi kebanggaan tersendiri. Pasalnya, budaya yang selama ini tumbuh dan dipelihara di tengah masyarakat ternyata mampu menarik perhatian orang dari berbagai negara.










