Minut  

Waspada El Nino 2026, Joune Ganda Kerahkan Seluruh Jajaran Siapkan Langkah Mitigasi

MINUT, BERiTA ONLINE LOKAL – Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara (Minut) mengambil langkah cepat menghadapi ancaman fenomena cuaca ekstrem El Nino yang diperkirakan melanda pada tahun 2026.

Menyusul peringatan dini yang dikeluarkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), seluruh perangkat daerah hingga pemerintah desa diminta segera menyiapkan strategi mitigasi untuk mengurangi dampak yang mungkin terjadi.

Bupati Minut, Dr. Joune J.E. Ganda, SE, MAP, MM, M.Si, menegaskan bahwa potensi El Nino tahun ini harus dipandang sebagai ancaman serius yang memerlukan kesiapsiagaan sejak dini.

Menurutnya, data terbaru WMO menunjukkan peluang terbentuknya El Nino mencapai 80 persen sebelum September 2026 dan meningkat hingga 90 persen menjelang November. Kondisi tersebut berpotensi memicu kekeringan berkepanjangan, gangguan produksi pangan, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.

“Ini bukan sekadar prediksi. Kita harus mempersiapkan langkah konkret di lapangan agar dampaknya bisa diminimalkan sejak sekarang,” ujar Joune Ganda, Kamis (4/6/2026).

Wilayah Sulawesi, termasuk Minahasa Utara, masuk dalam kawasan yang berpotensi terdampak kekeringan akibat fenomena tersebut. Karena itu, pemerintah daerah tidak ingin mengulangi dampak yang pernah terjadi saat El Nino kuat pada periode 2023-2024, ketika sektor pertanian mengalami tekanan berat dan memicu kenaikan harga sejumlah komoditas pangan.

Untuk menghadapi situasi tersebut, Pemkab Minut memfokuskan perhatian pada empat sektor strategis.

Pertama, sektor pertanian dan ketahanan pangan. Pemerintah berupaya memastikan ketersediaan air bagi lahan-lahan produktif guna menghindari gagal panen yang dapat mengganggu pasokan pangan daerah.

Kedua, penyediaan air bersih bagi masyarakat. PDAM bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) diminta memetakan wilayah rawan kekeringan sekaligus menyiapkan langkah distribusi air jika dibutuhkan.

Ketiga, peningkatan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pengawasan akan diperketat terutama di kawasan perbukitan dan perkebunan yang rentan mengalami kebakaran saat musim kering berkepanjangan.

Keempat, sektor perikanan dan kesehatan masyarakat. Pemerintah mengantisipasi kemungkinan perubahan suhu laut yang dapat memengaruhi hasil tangkapan nelayan serta menyiapkan layanan kesehatan untuk menghadapi dampak cuaca panas ekstrem.

Joune Ganda juga menginstruksikan Dinas Pertanian, Dinas Pangan, BPBD, para camat, hingga hukum tua untuk turun langsung ke lapangan melakukan edukasi kepada petani terkait pola tanam yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.

“Seluruh jajaran harus bergerak proaktif. Pastikan petani mendapat pendampingan yang memadai dan cadangan pangan daerah tetap terjaga,” tegasnya.

Sebagai bagian dari upaya mitigasi, Pemkab Minahasa Utara terus memperkuat koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) guna memperoleh informasi cuaca terkini secara real-time.

Joune Ganda menekankan bahwa kesiapan sejak awal menjadi kunci untuk menjaga stabilitas daerah di tengah ancaman perubahan iklim global.

“Kita ingin memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi, ketahanan pangan terjaga, dan roda perekonomian daerah tetap berjalan dengan baik meskipun menghadapi tantangan cuaca ekstrem,” pungkasnya.

(INNOR)